loading…
Pemimpin Gedung Putih itu mengatakan hal-hal dapat berubah dengan cepat bila ada pembicaraan dengan para pemimpin di Teheran.
“Ketika saya menjadi presiden, Iran adalah negara yang benar-benar teror. Mereka masih dan tak terbantahkan menjadi juara teror,” kata Trump kepada wartawan sebelum mengadakan pembicaraan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Caen, Prancis barat.
Baca Juga:
“Mereka gagal sebagai sebuah bangsa, tetapi saya tidak ingin mereka gagal sebagai sebuah bangsa. Kita dapat membalikkan itu dengan sangat cepat, tetapi sanksi-sanksi itu luar biasa (dalam hal) betapa kuatnya itu,” papar Trump, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (7/6/2019).
Macron dan Trump menekankan bahwa mereka tidak ingin Iran memperoleh senjata nuklir. Macron mengatakan Prancis dan AS juga ingin mengurangi program rudal balistik Iran dan mencapai perdamaian di kawasan Timur Tengah.
“Saya pikir kami memiliki tujuan yang sama dengan Iran. Kami memiliki kesepakatan hingga 2025 dan kami ingin melangkah lebih jauh dan memiliki kepastian penuh dalam jangka panjang,” kata Macron.
“Untuk membangun kita perlu memulai negosiasi. Kita perlu membuka negosiasi baru,” imbuh dia.
Kedua pemimpin berusaha untuk menghindari perselisihan mereka atas perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia, di mana AS telah keluar secara sepihak tahun lalu. Negara-negara Eropa yang terikat dalam perjanjian itu masih berupaya mempertahankannya.
Trump telah mengutuk perjanjian nuklir itu—yang ditandatangani oleh pendahulunya; Barack Obama— sebagai perjanjian cacat karena tidak permanen dan tidak mencakup program rudal balistik Iran atau perannya dalam konflik di Timur Tengah. Dia telah meminta Iran untuk datang ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan baru.
“Saya mengerti mereka ingin bicara dan itu baik-baik saja, kita akan bicara,” kata Trump tentang Iran. “Satu hal yang tidak bisa mereka miliki adalah senjata nuklir,” imbuh dia.
Ketegangan Tinggi
Awal pekan ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa Teheran akan terus menentang tekanan ekonomi dan politik AS dan tidak tertipu oleh tawaran negosiasi Trump.
“Berdiri dan menolak tuntutan berlebihan musuh dan intimidasi adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya,” katanya, tanpa menyebut nama Amerika Serikat.
Ketegangan antara Iran dan AS telah melonjak pada bulan lalu, ketika AS mengirim kapal induk dan pesawat pengebom B-52 ke wilayah Timur Tengah setelah laporan intelijen Washington menyebut Iran berencana menyerang pasukan AS dan kepentingannya di Timur Tengah.
AS juga menyalahkan Iran atas serangan terhadap empat kapal tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab bulan lalu. Namun, tudingan itu tanpa disertai bukti.
(mas)
Sumber: https://international.sindonews.com/read/1410093/41/trump-iran-bangsa-gagal-karena-sanksi-luar-biasa-as-1559881152
