Mantari bondar, warisan leluhur berusia seabad dalam menjaga hutan dan sumber air.
REPUBLIKA.CO.ID, Ikan jurung itu kini hampir punah. Ikan primadona yang sering dimanfaatkan untuk acara-acara adat itu kini sedang dibiakkan.
Untuk melestarikan ikan ini di Sungai Batangtoru, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) menyediakan hatchery indoor dengan 42 akuarium dan memberikan pelatihan untuk pembudidaya.”Kami melakukan pemijahan ikan jurung, nanti akan disebar lagi di sungai, dan diperbanyak,'' ujar Chief of Communications and External Affairs PT NSHE Firman Taufick.
Keberadaan air Sungai Batangtoru dipertahankan dengan cara menjaga pepohonan tetap lestari. Penanaman telah dilakukan di beberapa lokasi sekitar PLTA yang dibangun PT NSHE. Selain untuk menjaga ketersediaan air, pohon-pohon itu akan bermanfaat bagi orangutan.
“Kami sangat mendukung upaya konservasi air dan hutan,karena keberlangsungan PLTA itu tergantung oleh keberadaan air,” kata Firman.
Budidaya ikan yang juga dikenal sebagai ikan batak itu dilakukan di sepanjang 13 km Sungai Batangtoru. PT NSHE menggandeng pembudidaya Anton Sihombing dalam perkembangbiakan ikan jurung ini. Anton diberikan pelatihan budidaya ikan di Bogor pada 2017. Ilmu serta teknologi yang ia pelajari kemudian ia praktikkan di hatchery indoor itu.
“Untuk masyakarat Batak, ikan ini sangat penting dan sakral,'' kata Anton di Unit Pembudidayaan Rakyat Amfibi yang berada di Desa Padang Lancat, Tapanuli Selatan.
Ikan ini, dipercaya masyarakat memiliki banyak manfaat, antara lain obat. Makanya banyak penangkapan ikan ini. Anton telah belajar membudidayakan jenis ikan ini selama 10 tahun. Sebelumnya ia melakukan perkembangbiakan secara manual, dan tingkat keberhasilannya kurang dari 30 persen dari total telur yang dihasilkan induk.
“Setelah bekerja sama dengan NSHE dibangun hatchery indoor dan pemijahan bisa berhasil 90 persen,'' kata dia.
Sumber: https://nasional.republika.co.id/berita/puodbo368/tradisi-menjaga-hutan-dan-menjaga-ikan-batak-di-batangtoru
