Pedagang daging sapi Purwakarta menggunakan daun jati untuk bungkus.
REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA — Pedagang daging sapi di Kabupaten Purwakarta, sepakat meninggalkan kantong plastik untuk bungkus. Pasalnya, kantong plastik tersebut menjadi penyumbang terbesar dalam pencemaran lingkungan. Sebagai penggantinya, pedagang ingin menggunakan daun jati lagi seperti dulu.
Wakil Ketua Persatuan Pedagang Daging Kabupaten Purwakarta, Toni Syukur Hidayat, mengatakan, sejak puluhan tahun yang lalu ada perubahan kebiasaan dalam membungkus daging sapi. Sebelumnya, daging dibungkus dengan daun jati. Namun, saat ini diganti menggunakan kantong plastik.
“Daun jatinya sudah ditinggalkan. Padahal, daun ini sangat ramah lingkungan,” ujar Toni, kepada Republika.co.id, Ahad (4/8).
Seiring dengan maraknya bungkus kantong plastik, akhirnya terjadi pencemaran dimana-mana. Namun, kata Toni, pedagang tak bisa berkutik. Sebab, ketersediaan daun jatinya juga tidak ada.
Jika ke depannya, ada penyuplai daun jati, pihaknya bersama pedagang lainnya siap membeli daun itu mengingat banyak manfaat ketika daging dibungkus daun jati.
“Seperti, wangi dagingnya menjadi harum, lebih enak dikonsumsinya, serta daging itu tidak terkontaminasi zat kimia dari plastik,” ujarnya yang sudah berdagang daging selama 20 tahun ini.
Dalam sehari, kata Toni, perputaran daging sapi di seluruh pasar tradisional di Purwakarta mencapai tiga ton. Saat ini, harga daging sapi di Pasar Senen (Leuwi Panjang) mencapai Rp 115 ribu per kilogramnya.
Terkait dengan penggunaan daun jati, Toni mengaku, baru kali ini dirinya melayani pembeli yang membawa daun sendiri. Pembeli itu, mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Dedi, memborong daging yang dijualnya, sebanyak 10 kilogram. Daging itu, dibungkus dengan daun jati dan talinya bambu, dengan berat masing-masing setengah kilogram.
Sementara itu, Ketua DPD Golkar Jabar Dedi Mulyadi, mengaku prihatin dengan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh kantong plastik. Saat ini, di seluruh lingkungan, seperti selokan, sungai, tanah lapang, tercemar oleh sampah plastik.
“Makanya, perlu ada perubahan dari diri kita. Salah satunya, yang bisa dilakukan adalah mengganti kebiasaan menggunakan plastik untuk bungkus daging,” ujarnya.
Zaman dulu, para leluhur sudah mengajarkan kebiasaan pola hidup sehat. Salah satunya, dengan menggunakan bungkus dari bahan alami. Untuk daging, bisa menggunakan daun jati, daun waru dan daun tisuk.
Di Purwakarta sendiri, daun jati sangat melimpah. Seharusnya, instansi terkait atau pemkab punya regulasi khusus mengenai penggunaan bungkus daging ini. Sebab, daun jatinya sangat tersedia. Tinggal, bagaimana para pedagang didorong untuk menggunakan daun tersebut.
“Bisa saja, melibatkan anak-anak sekolah, mereka memunguti daun jati, dan membuat tali dari bambu. Lalu dijual ke pedagang. Selain meningkatkan kreativitas, anak-anak ini juga bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya,” ujar Dedi.
Sumber: https://nasional.republika.co.id/berita/pvoxg2382/pedagang-daging-purwakarta-akan-ganti-plastik-dengan-daun
