KIBLAT.NET, Pontianak – Asap Pontianak masih sesak dan ini sama sekali tidak lebay. Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU di Pontianak Kalimantan Barat pada 22 September 2019 pukul 15:00 berada di angka 119. Angka tersebut berarti kualitas udara di langit Pontianak berada pada level tidak sehat. Dampak kondisi di level ini umumnya penurunan jarak pandang dan penyebaran luas debu yang tentu sangat menyulitkan kehidupan warga yang menghuni wilayah tersebut.
Hitung-hitungan angka ISPU sendiri berdasar pada parameter konsentrasi partikulat PM 10 yang berukuran kurang dari 10 mikron di udara. PM10 merupakan partikel debu dan dia adalah salah satu polutan yang membahayakan sistem pernapasan jika terhisap langsung ke paru-paru serta mengendap di alveoli.
Penunjuk arah kota Pontianak masih diselimuti asap.
Kondisi tersebut tentu menyulitkan warga dalam beraktivitas. Arif (33), warga Pontianak mengaku bahwa aktivitas kesehariannya sangat terganggu oleh kabut asap.
"Kalau akibat kabut asap ini sangat mengganggu. Tapi aktivitas saya dan karyawan tetap berjalan seperti biasanya meski harus tetap pakai masker ketika di toko atau bepergian. Ketika melayani konsumen harus harus tetap pakai masker itu terkadang tidak efektif," ujar pemilik konter dan juga butik ini kepada Kiblat.net pada Ahad (22/09/2019) melalui pesan WhatsApp.
Berdasarkan pengamatan Arif, banyak sekali lokasi titik asap di sekitar kediamannya. Bahkan ada titik asap yang hanya berjarak 10 kilometer dari rumahnya.
"Titik asap di sini sangat bnyak sekali. Untuk jarak tidak tahu pastinya. Yang pasti area yang dibakar oleh oknum itu daerah pinggiran seperti daerah Sungai Raya Dalam bagian ujung, Rasau Jaya, dan belakang bandara area tanah kosong. Nah area ini yg paling terdekat dengan saya sekitar 10 kilo," jelasnya.
Tugu Digulis, Pontianak berselimut kabut asap.
Arif mengungkapkan bahwa kabut asap terasa sangat pekat dan benar-benar mempengaruhi jarak pandang.
"Ini sudah pekan ketiga kabut asap. Yang paling parah sepuluh hari terakhir ini sangat pekat sekali apalagi kalau pagi hari. Jarak pandang sangat minim tak lebih dari 150 M. Tiga hari terakhir ini sudah masuk level berbahaya," ungkapnya.
Selain masalah jarak pandang, infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA juga menjangkiti warga terdampak asap terutama anak-anak.
"Anak saya dua-duanya sudah kena ISPA pekan kemaren, sudah berobat ke dokter anak serta cek kesehatan. Yang si kakak perempuan usia 2 tahun 7 bulan, yang si adek laki-laki usia 1 tahun 2 bulan. Sampai hari ini dua-duanya batuk dan ingusnya masih meler. Dua-duanya sangat di batasi keluar kamar," katanya.
Adapun orang dewasa ketika bepergian menggunakan motor, kepala terkadang pusing dan tenggorokan terasa perih. "Rasa kayak gini bang, misal kita minum kopi kental, nahhh sisa kopinya itu masih melekat di tenggorokan. Nah gitu kira gambarannya," tutur Arif.
Wilayah Kalimantan Barat secara keseluruhan kini tak ada lagi yang sehat, semua penjuru tempat terpapar kabut asap. Tidak hanya itu, tercatat sudah ribuan anak terserang ISPA. Berdasar laporan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat pada 16 September, total 6.025 warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Warga hanya bisa bertahan sambil meminimalisir dampak atau akibat dari kabut asap ini dengan cara: pakai masker N95 atau masker sensai., jika ada yang ISPA segera memeriksakan diri ke RS, membatasi aktivitas luar rumah, banyak minum air putih, sayuran, dan buah segar," terang Arif.
Terkait penanganan, Arif menuturkan bahwa Pemerintah Daerah telah melakukan upaya-upaya yang cukup serius bagi warga terdampak. "Untuk Pemerintah Kota dan Provinsi sudah gencar memfasilitasi untuk anak atau lansia, ibu hamil yang terkena ISPA. Sudah ada beberapa titik rumah oksigen gratis. Kalau saya (biaya, red.) pribadi dan untuk anak saya kemaren pakai biaya pribadi."
Masjid Raya Mujahidin dengan langitnya yang berkabut.
Selain itu, sebagai ikhtiar Pemprov Kalbar dan Pemkot Pontianak telah mengadakan sholat istisqo. Ada juga kumpulan aktivis yang menggugat pemilih lahan korporasi di pengadilan.
"Kalau saya pribadi, saya (hanya bisa, red.) meminimalisir dampaknya saja," pungkasnya.
Reporter: Azzam Diponegoro
Editor: Rusydan Abdul Hadi
Sumber: https://www.kiblat.net/2019/09/23/asap-pontianak-masih-sesak-dan-ini-sama-sekali-tidak-lebay/
